BUDAYA MENCONTEK DI BERBAGAI BELAHAN DUNIA

KOMENTAR ARTIKEL

“ TOLERANCE OF CHEATING : AN ANALYSIS ACCROSS COUNTRIES”

 

“ Jan R. Magnus, Victor M. Polterovich,Dmitri L. Danilov, and Aiexei V. Savvateev ”

 

Oleh ISRO’IYATUL MUBAROKAH

 

Mencontek (cheating) adalah perbuatan yang dilakukan untuk mencapai apa yang diinginkan atau bisa disebut keberhasilan dengan cara, proses, prosedur yang salah atau tidak sah. Kasus mencontek diberbagai belahan dunia telah membudaya. Sebenarnya tidak pantas jika kata budaya digabungkan dengan kata mencontek. Namun, dalam kenyataan di dalam masyarakat kata tersebut sah-sah saja. Karena budaya itu sendiri berarti merupakan suatu produk manusia melalui proses pembelajaran.

Budaya mencontek memang menjadi masalah di berbagai negara di dunia. Di negara kita sendiri pun demikian. Banyak kasus yang diberitakan di media yang menngemparkan saat Ujian Akhir Nasional (UAN) berlangsung. Kasus kecurangan dalam pelaksanaan ujian terjadi di berbagai tingkat pendidikan, dimulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama/Sederajat (SMP/Sederajat), Sekolah Menengah Atas/Sederajat (SMA/Sederajat) maupun di tingkat universitas, dan lebih parahnya kasus manipulasi dalam ujian Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS).

Kasus kecurangan dalam ujian di atas merupakan bukti bahwa budaya mencontek telah membudaya dan menjadi kebiasaan. Kebiasaan mencontek terjadi juga dalam kegiatan sekolah lainnya, baik mencontek pekerjaan rumah, laporan praktikum, dan lain sebagainya.

Setelah saya analisis, kebiasaan mencotek dikarenakan paradigma sempit yang berpandangan bahwa seseorang yang sukses di sekolah dapat sukses dalam menjalankan hidup. Dalam hal ini dapat disimpulakan bahwa mencontek berawal dari sebuah konsep yang dinamakan “nilai” secara kuantitatif. Untuk itu diperlukn evaluasi. Evaluasi dilaksanakan dalam rangka menilai keberjalanan sistem pengajaran/ menilai kurikulum terhadap peserta didik. Namun….dalam kenyataannya, sistem evaluasi diterapkan tidak memberikan celah bagi peserta didik untuk membuktikan diri dengan cara lain kecuali dengan mendapatkan nilai yang baik.

Kebiasaan mencontek dalam konteks masyarakat adalah tidak adanya penerapan budaya malu dalam mencontek. Bahkan mereka bangga karena dapat mencontek dengan mudah dan dapat hasil yang baik. Penerapan budaya malu lebih kepada upaya brainwash untuk mendoktrin setiap orang bahwa mencontek adalah memalukan. Setiap oran yang ingin mencontek akan merasa bahwa setiap orang bahkan dirinya sendiri mengawasi dan menghakimi ketika orang tersebut mencontek.

Menurut pandangan saya, faktor yang menyebabkan mencontek menjadi kebiasaan individu yaitu seseorang tidak siap atau kurang persiapan dalam menghadapi ujian, sifat pemalas, dan lingkungan sekitar mereka yang membiasakan mencontek.

Dalam pemberantasan budaya mencontek ini, harus ada kerja sama antara pemerintah dengan pihak-pihak yang terkait dengan dunia pendidikan. Kita harus membudiyakan budaya malu dalam mencontek, pengawas ujian juga harus secara ketat dalam mengawai peserta ujian, guru harus disiplin dan mengawasi peserta didiknya, dan peran orang tua pun sangat diperlukan dalam pemberantasan budaya mencontek. Marilah kita ikut srta dalam mengurangi budaya mencontek di Indonesia dengan apa yang kita bisa. J J J

   

About isroiyatulm

i am isro'iyatul mubarokah. i am from kebumen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s